Jumat, 16 September 2011

Desain Cincin Pernikahan yang Unik

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Mungkin teman teman sebentar lagi akan merayakan pernikahan, yah tidak lengkap rasanya tanpa cincin yang melekat di tangan si dia :). Inilah beberapa Desain cincin pernikahan yang unik untuk si dia
cincing pernikahan unik (1)
cincing pernikahan unik (2)
cincing pernikahan unik (3)
cincing pernikahan unik (4)
cincing pernikahan unik (5)
cincing pernikahan unik (6)
cincing pernikahan unik (7)
cincing pernikahan unik (8)
cincing pernikahan unik (9)
cincing pernikahan unik (10)
cincing pernikahan unik (11)
cincing pernikahan unik (12)
cincing pernikahan unik (13)
www.zonaunik.com

Desain Cangkir yang Unik

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Keren banget nih Desain Cangkir yang menambah selera minum …kalo punya cangkir ini mungkin teman teman saya pade iri nih liatya di kantor..
ingeniousfunnymugmrplick_thumb
ingeniousfunnycortadomugpilottoignacio
ingeniousfunnydunkmug
ingeniousfunnymuggunmugkilltime
ingeniousfunnymugmeltingiceberycup
ingeniousfunnymugstackedcup
ingeniousfunnymycuppamug

Jumat, 09 September 2011

Aditya Dharma Putra, Mahasiswa Termuda UGM


Adalah Aditya Dharma Putra. Ia menjadi mahasiswa termuda dari 10.248 mahasiswa baru dalam penerimaan tahun ajaran 2011/2012 ini. Anak muda asal kota Bekasi ini ketika diterima di UGM, tepatnya di Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik, baru berusia 14 tahun 11 bulan 27 hari. Sekilas, Aditya, begitu ia akrab disapa, tidak jauh berbeda dengan mahasiswa lainnya. Perawakannya yang terbilang tinggi untuk anak seusianya sering membuat orang tak pernah menduga jika ia remaja yang baru berusia 14 tahun. “Memang tidak banyak yang tahu kalau saya masih berusia 14 tahun saat diterima kemarin,” tuturnya usai mengikuti upacara peresmian penerimaan mahasiswa baru, Kamis (8/9), di halaman Grha Sabha Pramana (GSP) UGM.
Aditya yang dilahirkan di Bekasi, 4 September 1996, merupakan anak pertama dari dua bersaudara pasangan Supriyadi (karyawan sebuah bursa efek di Jakarta) dan Anik Mei Saktiana (ibu rumah tangga). Ia masuk SD Al Azhar Bekasi saat berumur 5 tahun. Pendidikan SD ditamatkannya dalam waktu lima tahun dengan mengikuti program akselerasi. Tak jauh berbeda di bangku SMP dan SMA, Aditya pun mengikuti program akselerasi sehingga berhasil lulus satu tahun lebih cepat dari kelas biasa. Aditya masuk SMP Al Azhar Bekasi saat berumur 10 tahun dan melanjutkan di SMA 1 Bekasi pada usia 12 tahun.
Aditya menuturkan ia tidak pernah sekalipun merasa terbebani ketika mengikuti program akselerasi. Masuk kelas akselerasi memang merupakan keinginannya pribadi, bukan karena dorongan orang tua. “Saya memang sengaja mengambil program akselerasi biar cepat lulus,” kata penggemar buku bacaan bergenre fiksi ilmiah ini.
Menurut pengakuan pria berkacamata ini, dirinya termasuk orang yang tidak memaksakan diri untuk belajar. Usai jam sekolah, ia tetap meluangkan waktu untuk bermain dengan teman-temannya. “Seperti anak-anak lainnya, selepas sekolah saya bermain dengan teman-teman. Kalau tidak, ya jalan-jalan ke mall atau mengunjungi toko buku. Bisa dibilang saya malah jarang belajar. Belajar kalau pas mau ulangan saja dan saat di sekolah,” ujarnya sembari tersenyum.
Setelah dinyatakan lulus pada 2011 lalu, Aditya mendaftar kuliah di UGM melalui jalur SNMPTN Undangan. Ketika itu, ia mengambil Jurusan Teknik Industri sebagai pilihan pertama dan Teknik Sipil sebagai pilihan kedua. Setelah melalui serangkaian tes, akhirnya ia dinyatakan diterima di Jurusan Teknik Industri UGM. “Sebenarnya, saya ingin ambil Jurusan Ekonomi, tapi sama orang tua didorong mengambil Teknik Industri saja karena di SMA saya ambil jurusan IPA. Kata orang tua, di Jurusan Teknik Industri ada muatan pelajaran ekonominya. Ya, saya akhirnya memutuskan untuk mengambil pilihan di jurusan itu,” kata pria yang hobi twitter-an ini.
Masuk UGM sebenarnya bukan pilihan Aditya. Ia melakukan atas saran guru SMA-nya. “Sebenarnya waktu itu saya ingin ambil UI yang dekat dengan rumah, tapi oleh guru saya disarankan untuk ikut tes di UGM saja,” jelas Aditya yang kini kost di Jalan Kaliurang Km 6, Pandega Marta.
Semangat untuk cepat lulus rupanya masih tertanam dalam diri Aditya. Ia menargetkan dapat lulus kuliah di UGM dalam waktu 3,5 tahun. Setelah lulus, ia tidak berencana untuk melanjutkan studi. Aditya justru berkeinginan untuk pindah ke Amerika dan mencari pekerjaan di negeri Paman Sam itu untuk penghidupan yang lebih baik. “Setelah lulus dari UGM, rencananya ingin pindah ke Amerika, cari kerja di sana untuk mengangkat kehidupan orang tua dan adik,” pungkas Aditya yang bercita-cita menjadi manajer perusahaan ini. (Humas UGM/Ika)
sumber: ugm.ac.id

Anak Penarik Becak Lulus Dokter di UGM


YOGYAKARTA – Suyatno (63) memarkir becaknya di belakang Grha Sabha Pramana dan menggemboknya dengan sebuah rantai. Tidak lama kemudian, ia mengambil sebuah bungkusan plastik berwarna hijau yang tersimpan di belakang kursi sandaran becaknya. Bergegas ia mencari sudut gedung dan membuka isi tas plastik itu. Sebuah baju batik berwarna coklat terlipat rapi. “Sebelum pakai batik, saya lap dulu keringat saya, banyak sekali,” kata Suyatno sebelum naik ke lantai dua tempat berlangsung sebuah acara.
Suyatno datang ke kampus UGM dalam rangka menghadiri undangan pertemuan orang tua mahasiswa baru, Kamis (8/9). Ia datang bukan sebagai orang tua mahasiswa baru, tetapi sebagai undangan khusus. Orang tua ini dinilai berhasil menguliahkan anaknya hingga lulus menjadi dokter di Fakultas Kedokteran (FK) UGM. Pria yang sehari-hari menetap di Terban, Kota Yogyakarta, ini memiliki empat orang anak. Namun, hanya anak bungsunya, Agung Bhaktiyar, yang dapat mengenyam bangku pendidikan tinggi, bahkan telah dilantik menjadi dokter pada pertengahan 2011 lalu.
Suyatno berkisah bahwa sang anak tidak pernah memberitahu jika mendaftar tes masuk UGM pada tahun 2005. Setelah dinyatakan lulus, barulah si bungsu memberi tahu. Saat itu, Suyatno sempat kaget dan terdiam, tidak menyangka jika anaknya dapat diterima di FK UGM. Ia hanya mengiyakan akan mendukung keinginan anaknya tersebut meski sebenarnya Suyatno masih ragu apakah mampu menguliahkan anaknya sampai selesai. Namun, keraguan itu tidak ia utarakan. “Bapak akan berusaha sampai kamu bisa selesai kuliah, Nak,” ujarnya kala itu membesarkan hati sang anak.
Agung pun mafhum dengan kondisi keluarganya. Ia pun tidak pernah memaksa orang tuanya untuk memenuhi keinginannya. Sejak kecil, Suyatno sudah membiasakan anak-anaknya untuk hidup sederhana, bahkan untuk membeli baju seragam dan sepatu sekolah, Suyatno selalu membelikan yang serba bekas. Suyatno memang tidak dapat berbuat banyak. Dari menarik becak, Suyatno hanya dapat membawa pulang uang sebesar Rp20.000,00 hingga Rp30.000,00 per hari. Istrinya, Saniyem, membantunya menopang ekonomi keluarga dengan bekerja sebagai pengumpul barang rongsokan di pasar Terban.
Kendati demikian, Suyatno dan Saniyem tetap optimis dan berdoa agar suatu saat anaknya dapat bernasib lebih baik. “Dulu saya berangan-angan paling tidak bisa melebihi saya,” kata pria tamatan pendidikan sekolah rakyat ini. Dalam perjalanannya, Suyatno tidak merisaukan biaya kuliah anaknya selama enam tahun di FK UGM karena Agung mendapat bantuan beasiswa dari UGM. “Tapi kalau untuk fotokopi dan uang saku, dia tetap minta ke saya. Kalau tidak ada, tetap apa adanya,” ujarnya.
Pengalaman Suyatno dalam menguliahkan anaknya hingga lulus menjadi dokter ini disampaikan di hadapan 3.717 orang tua mahasiswa baru yang hadir di Grha Sabha Pramana. Kisahnya membuat beberapa orang tua menjadi terharu. Namun, tidak sedikit pula yang merasa tergugah. Yang pasti, testimoni Suyatno membuktikan penarik becak pun ternyata dapat menguliahkan anaknya di UGM, jadi dokter lagi! (Humas UGM/Gusti Grehenson)